Memahami Cara Kerja Aborsi dan Resikonya

Aborsi

Aborsi

Sehat-Natural.com – Apakah anda tahu, apakah itu Aborsi? Aborsi adalah suatu tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengeluarkan atau menghilangkan isi dalam rahim, sehingga efektif untuk mengakhiri kehamilan. Tindakan aborsi sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara atau metode yang berbeda-beda. Metoden yang digunakan tergantung dari usia kehamilan yang sudah berlangsung.

Terlepas dari beberapa pilihan dalam melakukan metode aborsi, aborsi dengan tindakan pembedahan atau operasi adalah cara yang di nilai paling aman dan sensitif. Namun disamping itu, pasien yang akan melakukan aborsi ini harus mendapatkan perawatan pra-operasi terlebih dahulu dan juga perawatan pasca-operasi untuk memastikan agar tidak terjadi komplikasi setelah melakukan aborsi dikemudia hari.

Siapa Saja Yang Perlu Menjalani Aborsi Dengan Tindakan Operasi Dan Hasil Yang Diharapkan

Melakukan Aborsi dengan metode pembedahan boleh dilakukan apabila :

  • Janin sudah terdiagnosa mengalami cacat lahir atau terkena penyakitn yang cukup parah, kondisi ini biasanya dapat terdeteksi dengan melalui tes urin pada saat menginjak usia kehamilan trimester kedua.
  • Janin sudah tidak berkembang atau berhenti berkembang di dalam rahim.
  • Kehamilan yang jalani beresiko tinggi terhadap nyawa sang ibu.
  • Kehamilan yang dihasilkan akibat dari gagalnya penggunaan alat kontrsepsi.
  • Kehamilan yang tidak diharapkan.

Jika memang sedang mempertimbangka untuk melakukan tindakan aborsi, sangat penting untuk diketahui oleh pasien dan juga pasangannya agar berhati-hati dalam mempertimbangkan semua pilihan yang tersedia. Namun, jika memang sudah benar-benar matang dalam mengambil keputusan untuk melakukan aborsi, maka tindakan ini harus dilakukan sedini mungkin dan idealnya sebelum memasuki trimester kedua. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir resiko dan komplikasi yang mungkin akan ditimbulkan di masa mendatang pada kesehatan ibu hamil.

Meski terbilang invasif, melakukan tindakan aborsi dengan metode pembedahan atau operasi hanya membutuhkan waktu satu kali kunjungan saja, artinya seluruh proses yang dilakukan hingga selesai cukup dilakukan sekali kunjungan saja dan pasien tidak perlu kembali lagi. Hal ini berbeda dengan tindakan aborsi medis yang justru membutuhkan waktu lebih dari dua kali untuk melakukan kontrol ke dokter dalam jangka waktu 3 minggu setelah melakukan aborsi. Melakukan aborsi dengan pembedahan memang dapat mengakhiri kehamilan hanya dalam sekali proses, sedangkan tindakan aborsi secara medis dapat terjadi secara bertahap dan bahkan dapat berlangsung selama beberapa hari dan perlu dilakukan dalam beberapa langkah.

Tindakan aborsi yang dilakukan dengan tindakan pembedahan memerlukan bius lokal atau umum, sedangkan aborsi medis tidak perlu melakukan tindakan pembedahan. Kedua metode tersebut dianggap efektif dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi yaitu mencapai 95% untuk tindakan aborsi dengan metode medis, sedangkan aborsi dengan metode beda bisa mencapai 99% tingkat keberhasilannya.

Cara Kerja Aborsi Dengan Metode Pembedahan

Proses spesifikasi yang perlu digunakan dalam melakukan bedah untuk mengangkat isi dalam rahim tergantung dari usia kehamilan itu sendiri, apakah kehamilan yang sedang dijalani sudah memasuki trmester pertama, kedua atau trimester ketiga. Ada tiga metode berbeda yang bisa dilakukan, termasuk :

  • Aspirasi Vakum Manual atau Mesin Vakum Aspirasi

Dalam melakukan metode ini akan dimulai dengan memasukan sebuah tabung berukuran kecil ke dalam rahim, kemudian digunakan alat penghisap untuk menyedot berbagai jenis jaringan yang ada di dalam rahim. Metode ini hanya dilakukan untuk pasien yang usia kehamilannya sudah memasuki trimester pertama atau sekitar 5-12 minggu pertama. Karena banyak tanda-tanda cacat lahir yang terjadi pada janin dapat terdiagnosa sebelum memasuki trimester kedua, tindakan aborsi yang dilakukan pada trimester pertama paling umum dilakukan.

  • Dilasi dan evakuasi (D & E)

Meskipun tindakan aborsi pada usia kehamilan trimester kedua dikenal dengan istilah D & C atau Dilatasi dan Curetase, proses aborsi yang dilakukan dengan metode ini biasanya akan dikombinasikan dengan tindakan aspirasi vakum, dan dalam hal ini disebut dengan Dilasi dan Evakuasi. Metode aborsin ini biasanya dilakukan selama usia kehamilan trimester kedua atau sekitar usia 12 minggu. Dalam melakukan tindakan ini akan menggunakan kombinasi antara instrumen hisap dan bedak dengan tujuan untuk mengangkat semua jaringan janin dan juga plasenta yang ada dalam rahim. Resiko dilakukannya aborsi dengan metode ini, resiko terjadinya komplikasi lebih rendah jika dibandingkan dengan cara menginduksi persalinan.

  • Aborsi Induksi

Metode yang terakhir yaitu aborsi yang dilakukan dengan menggunakan metode non-bedah untuk menghentikan kehamilan pada usia kehamilan trimester kedua. Metode induksi aborsi ini dilakukan dengan cara memberikan pasien obat tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya kontraksi persalinan, kemudian akan terjadi dorongan pada janin dari dalam rahim seperti sedang melahirkan.

Setelah melalui proses bedah untuk mengakhiri kehamilan, maka biasanya pasien akan dibawa ke dalam ruangan pemulihan dan akan dilakukan pemantauan serta dilakukan pengawasan selama 24 jam. Dokter kemudian akan memberikan instruksi khusus kepada pasien untuk melakukan perawatan pasca-operasi dan konsumsi obat-obatan yang diresepkan jika itu memang diperlukan. Selain itu, pasien juga biasanya akan disarankan untuk tidak dulu melakukan hubungan intim dengan pasangan (suami) setidaknya selama 3 minggu setelah aborsi. Ini adalah waktu rata-rata paling lama agar kondisi tubuh benar-benar pulih sepenuhnya.

Melakukan aborsi dengan metode pembedahan ini adalah proses satu langkah yang dapat mengakhiri proses kehamilan, sehingga pasien yang sudah melakukan aborsi dengan metode operasi ini sudah tidak perlu kembali lagi untuk kunjungan berikutnya, selama pasien tidak mengalami komplikasi.

Terkepas dari semia metode yang dapat dilakukan, bagaimana pun tindakan aborsi dengan metode pembedahan hanya boleh dilakukan oleh orang yang benar-benar profesional dalam kesehatan, seperti perawat-bidan bersertifikat, ginekolog atau pihak dokter keluarga yang sudah memiliki spesialisasi dalam melakukan tindakan tertentu.

Beberapa Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Aborsi Yang Terjadi Setelah Pembedahan

Pasien bisa mengalami komplikasi menderita rasa sakit mulai dari tingkat ringan hingga berat, selama dan setelah melakukan tindakan aborsi dengan metode pembedahan. Rasa sakit yang terjadi tergantung dari kondisi fisik dan juga emosional yang dialami oleh pasien setelah dilakukan tindakan. Baik itu setelah melakukan tindakan dengan metode medis ataupun bedah, keduanya dapat beresiko menyebabkan terjadi pendarahan sementara, kemudian pada akhirnya kondisi tersebut akan berangsur-angsur mereda seperti yang biasa terjadi pada persalinan normal.

Baca Juga : 

Namun, apabila sudah dilakukan aborsi medis dan tidak berhasil, maka mungkin akan dilakukan tindakan aborsi dengan metode pembedahan untuk menyelesaikan proses aborsi tersebut. Hal seperti ini sangat perlu dilakukan, karena tindakan aborsi medis yang tidak berhasil dapat meningkatkan resiko yang bisa terjadi pada pasien seperti :

  • Mengalami infeksi
  • Terjadi pendarahan hebat yang menyebabkan tubuh pasien mengalami kehilangan banyak darah.
  • Janin mengalami cacat lahir.

Meskipun sangat langka dan jarang terjadi, tindakan aborsi ini dapat menyebabkan kematian. Tetapi resiko ini kurang dari 1 dari 100.000 pasien yang sudah melakukan aborsi dengan metode bedah, bahkan resiko ini lebih tinggi untuk tindakan aborsi yang dilakukan dengan metode medis.

Itulah sedikit penjelasan mengenai apa itu Aborsi, semoga apa yang telah kami bahas dan jelaskan diatas dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi para pembaca semua.

error: